26/04/2020
*Aku Lakukan Ini Hingga Anakku Jadi Imam Masjidil Haram*
_Assalamu'alaikum wa rahmatullahi wa barokatuh_
Ya Allah... Limpahkanlah shalawat serta salam pada junjungan kami semua, Nabi Muhammad SAW.
_Alhamdulillah_
Melalui tulisan, akan saya ceritakan kisah tentangku bersama putraku. Kisah yang tak terlupakan.
Aku sedang mengaduk sup kambing mendidih di depanku ketika suamiku datang tergopoh-gopoh. "Ma, tamu kehormatan kita tiba satu jam lagi."
Aku tersentak. "Tapi banyak hidangan yang belum siap. Cepat, bantu aku."
Dengan gerakan yang lebih cekatan dari sebelumnya, sup kambing dan menu-menu lainnya pun siap lebih awal. *Namun masih ada satu masalah lagi*. Padahal tamu-tamu kehormatan itu akan tiba beberapa menit lagi.
"Aku mencium bau kambing di pakaianmu," kataku.
"Kamu juga. Ayo kita membersihkan diri. Jangan sampai kita melayani mereka dengan bau seperti ini," kata suamiku.
Aku pun mengikutinya meninggalkan meja makan. Di tengah perjalanan, aku berpapasan dengan putra kecilku. Ia membawa mangkuk berisi pasir.
"Abdurrahman! Calon hafiz Qur'an! Calon Imam Masjidil Haram!" panggilku seperti biasa. Sedangkan nama pemberian ayahnya adalah Abdurrahman as-Sudais. "Kalau bermain pasir, jangan sampai mengotori rumah. Ada tamu penting mau datang ke sini," pesanku lalu cepat-cepat melanjutkan perjalanan.
" _Assalamu'alaikum!_"
Itu mereka!
Syukurlah, aku dan suamiku sudah siap. *Namun*, ketika kami melewati meja makan hendak ke ruang tamu, aku melihat pemandangan yang membuatku terbelalak.
*Aku begitu marah*. Bagaimana tidak?
Di depanku, *anakku sedang menaburkan pasir ke makanan-makanan untuk tamu*. Seolah, semua makanan itu adalah mainan, bukan makanan yang dimasak ibunya dengan susah payah.
*"SUDAIS!"* Bentakku dengan seluruh sisa tenagaku. *"APA YANG KAU LAKUKAN, HAH?! PERGI! JADILAH KAMU...JADILAH KAMU..."* hal-hal buruk berdengung-dengung di kepalaku, menunggu aku muntahkan pada anakku. "JADILAH KAMU *IMAM MASJIDIL HARAM!"*
Berhasil!
Aku berhasil mengalahkan amarahku yang ingin mengatakan hal buruk pada putra kecilku.
Sekarang, apa yang terjadi dengannya? Coba kalian tebak!
Sudais kecil kini telah menjadi Syaikh Abdurrahman as-Sudais yang di usia 22 tahun telah mampu memenuhi harapanku. Ya. Ia diangkat menjadi *Imam Masjidil Haram* di umur semuda itu.
Bahkan di tahun yang sama, ia dipercaya untuk berkhutbah di masjid kebanggaan umat Islam sedunia itu.
Hebatnya lagi, tahun 2005, putraku itu mendapat penghargaan sebagai *_Islamic Personality of the Year_* (Tokoh Muslin Paling Berpengaruh) dari Dubai International Holy Qur'an Award Organising Committee.
Ada lagi yang tak kalah mengagumkan.
7 tahun kemudian, ia diangkat menjadi kepala presidensial kepengurusan *Masjidil Haram* dan *Masjid Nabawi* sekaligus.
_Allahu Akbar!_
Mungkin kalian setelah membaca kisahku ini, jadi teringat sabda Rasulullah SAW,
" _Tiga doa yang tidak tertolak yaitu doa orangtua, doa orang yang berpuasa, dan doa seorang musafir."_
(HR Al-Baihaqi, shahih menurut Syaikh Al-Bani)
Jika waktu itu aku tidak menahan kata-kata buruk yang akan kulontarkan, entah jadi apa anakku sekarang.
!!! Cerpen ini hanya karangan yang berdasarkan kisah nyata !!!
Semoga dapat dipetik hikmahnya 🙏
_Wassalamu'alaikum wa rahmatullahi wa barokatuh_
*Sumber
Website : www.pusatbisnissyariah.com
Facebook : https://www.facebook.com/bisnissya