14/09/2026
Ada satu kejadian yang belakangan menarik perhatian publik Indonesia. Bukan tentang CEO yang datang meresmikan pabrik baru, menghadiri pertemuan bisnis, atau menerima penghargaan perusahaan. Seorang pimpinan perusahaan dari Jepang justru datang ke sebuah rumah duka di Purworejo, Jawa Tengah, untuk memberikan penghormatan terakhir kepada seorang pemuda Indonesia yang pernah bekerja di perusahaannya.
Namanya Tsuneaki Kubo, President sekaligus CEO Toda Kogyo Corp., perusahaan asal Jepang yang bergerak di bidang material elektronik dan material fungsional. Situs resmi perusahaan mencatat Toda Kogyo memiliki lebih dari seribu pekerja secara konsolidasi per Maret 2026. Artinya, ini bukan perusahaan kecil yang memungkinkan seorang CEO mengenal dekat setiap orang yang bekerja di bawahnya.
Namun pada 11 September 2026, Kubo diberitakan datang langsung ke Purworejo. Tujuannya bukan membicarakan investasi ataupun membuka cabang baru, melainkan memberikan penghormatan terakhir kepada Indra Kurniawan, pemuda berusia 21 tahun asal Desa Lubanglor, Kecamatan Butuh, Kabupaten Purworejo, yang meninggal dunia setelah mengalami kecelakaan saat menjalani program pemagangan teknis di Jepang.
Kalau perusahaan hanya mengirim ucapan belasungkawa atau perwakilan, mungkin sebenarnya sudah dianggap cukup. Apalagi jaraknya bukan Purworejo ke Semarang atau Jakarta, tetapi dari Jepang menuju Indonesia. Namun pimpinan tertinggi perusahaan itu memilih datang sendiri.
Di situlah cerita ini terasa berbeda. Indra bukan direktur perusahaan, bukan manajer senior, dan bukan mitra bisnis besar yang menentukan keuntungan perusahaan. Ia adalah seorang pemuda Indonesia yang mengikuti Technical Intern Training Program di Jepang sejak Juni 2024 dan bekerja di fasilitas Toda Kogyo di Kota Otake, Prefektur Hiroshima.
Pada malam 2 September 2026, kecelakaan terjadi di fasilitas tempat Indra bekerja. Berdasarkan laporan awal kepolisian Jepang, ia mengalami kecelakaan ketika bekerja menggunakan mesin pengaduk dalam proses produksi. Indra diketahui sedang bekerja seorang diri sehingga tidak ada saksi yang melihat langsung bagaimana kecelakaan tersebut bermula. Polisi Jepang kemudian memeriksa rekaman kamera pengawas untuk mengetahui penyebab lengkap kejadian itu.
Kabar duka itu kemudian sampai ke Purworejo. Pemerintah Indonesia melalui perwakilan di Jepang, pemerintah daerah, lembaga pelatihan, pemerintah desa, serta berbagai pihak melakukan koordinasi untuk membantu proses pemulangan jenazah. Di tengah seluruh proses tersebut, kedatangan Tsuneaki Kubo membawa makna tersendiri. Kehadirannya tentu tidak dapat mengurangi rasa kehilangan keluarga. Namun tindakan itu menunjukkan bahwa seseorang yang pernah menjadi bagian dari perusahaan tetap layak dihormati bahkan ketika ia sudah tidak lagi bisa memberikan tenaga, waktu, ataupun hasil apapun bagi perusahaan tersebut.
Di sinilah pembicaraan tentang kepemimpinan menjadi menarik. Selama ini kita sering menilai pemimpin dari kemampuannya menyusun strategi, menaikkan omzet, mengejar target, atau membuat perusahaan tumbuh. Semua itu penting, tetapi ada ukuran lain yang lebih sederhana. Bagaimana seorang pemimpin memperlakukan manusia yang bekerja bersamanya.
Menghargai seseorang ketika sedang berprestasi relatif mudah. Ketika target tercapai, semua ingin berjabat tangan. Ketika perusahaan menerima penghargaan, jajaran pimpinan biasanya tidak sulit ditemukan di barisan depan. Namun kualitas seorang pemimpin justru lebih terasa ketika yang datang bukan kabar keberhasilan, melainkan musibah.
Apalagi dalam kasus ini, Indra hanya satu orang di antara lebih dari seribu pekerja dalam kelompok perusahaan. Secara angka mungkin terlihat kecil, tetapi bagi sebuah keluarga, satu orang tidak pernah menjadi angka kecil. Di belakang seorang pekerja ada keluarga yang menunggu, ada rumah yang ditinggalkan, dan ada harapan tentang kehidupan yang lebih baik. Karena itu, kedatangan seorang CEO ke rumah duka pekerjanya terasa lebih dari sekadar kunjungan formal. Ia menunjukkan bahwa hubungan kerja tidak harus berhenti pada urusan target, kontrak, dan produktivitas. Ada sisi kemanusiaan yang tetap layak dijaga.
Tentu tindakan tersebut tidak lantas membuat seluruh persoalan selesai. Penyebab kecelakaan tetap harus diselidiki dengan jelas, hak-hak almarhum dan keluarganya tetap perlu dipenuhi sesuai ketentuan, dan evaluasi keselamatan kerja tetap penting dilakukan. Namun kalau yang sedang kita bahas adalah soal sikap dan adab seorang pemimpin, keputusan Kubo untuk hadir langsung memang layak mendapatkan apresiasi.
Sebab tidak semua orang dengan jabatan tinggi bersedia melakukan hal serupa. Kadang ada atasan yang ruang kerjanya hanya berbeda satu lantai dari bawahannya, tetapi ketika anggota tim sedang menghadapi masalah, untuk sekadar datang menemui saja rasanya berat. Sementara dalam cerita ini, jaraknya beda negara dan ribuan kilometer, tetapi seorang pimpinan tertinggi perusahaan tetap datang untuk memberikan penghormatan terakhir.
Mungkin karena hal seperti inilah kisah tersebut cepat mendapatkan perhatian publik. Kita terlalu sering melihat hubungan kerja berubah menjadi sangat transaksional. Selama seseorang masih produktif, tenaganya dibutuhkan, targetnya ditanyakan, dan kontribusinya terus diminta. Namun ketika seseorang sakit, terkena musibah, atau tidak lagi mampu memberikan hasil, perhatian kadang ikut berkurang.
Kalimat bahwa karyawan adalah aset paling berharga perusahaan memang selalu terdengar indah di presentasi dan dinding kantor. Masalahnya, nilai sebuah kalimat baru benar-benar terlihat ketika perusahaan diminta membuktikannya dalam situasi yang tidak menguntungkan. Dalam konteks itulah tindakan Kubo terasa memiliki bobot. Tidak ada omzet yang bertambah karena CEO datang ke rumah duka. Tidak ada mesin yang menghasilkan lebih banyak barang karena perjalanan tersebut. Tetapi tindakan itu menunjukkan sesuatu yang tidak mudah dihitung dalam laporan keuangan, rasa hormat.
Dari sini kita bisa melihat satu ukuran kepemimpinan yang sering dilupakan. Seorang pemimpin tidak menjadi besar hanya karena banyaknya orang yang berada di bawah struktur organisasinya. Jabatan bisa diberikan perusahaan, ruangan besar bisa disediakan kantor, dan fasilitas bisa mengikuti posisi. Tetapi rasa hormat kepada manusia tidak otomatis datang bersama jabatan.
Ada pemimpin yang semakin tinggi posisinya justru semakin jauh dari orang-orang di bawahnya. Namun ada p**a yang semakin tinggi justru semakin sadar bahwa tanggung jawabnya menyangkut semakin banyak kehidupan. Perbedaannya sering kali terlihat ketika keadaan tidak sedang baik-baik saja.
Pada saat seorang anggota tim terkena musibah, seorang pemimpin punya pilihan sederhana. Ia bisa menganggap semuanya sebagai urusan bagian lain, atau memilih hadir sebagai manusia. Pada kasus Indra, Tsuneaki Kubo memilih datang sendiri dari Jepang menuju Purworejo.
Tindakan itu sekaligus mengingatkan bahwa rasa hormat dalam hubungan kerja seharusnya berjalan dua arah. Karyawan diminta menjaga nama baik perusahaan, memberikan tenaga terbaik, dan ikut membawa perusahaan tumbuh. Maka ketika seorang anggota tim mengalami musibah, wajar apabila dari arah sebaliknya juga ada kepedulian.
Tentu bukan berarti setiap CEO harus selalu terbang lintas negara setiap kali terjadi musibah. Kondisi setiap perusahaan berbeda, begitu p**a bentuk perhatian yang bisa diberikan. Namun prinsipnya sama. Jangan hanya mengenal bawahan ketika membutuhkan tenaganya, kemudian lupa bahwa di balik posisi pekerjaan tersebut ada manusia yang layak dihormati.
Kita juga tidak perlu membawa cerita ini menjadi perbandingan bahwa pemimpin Jepang selalu lebih baik atau budaya kerja di Jepang selalu sempurna. Jepang pun memiliki berbagai persoalan ketenagakerjaan dan keselamatan kerja yang kompleks. Cukup ambil pelajaran baik dari satu tindakan yang memang pantas dihargai.
Kadang kualitas seorang pemimpin memang terlihat dari hal yang tidak masuk ke dalam indikator kinerja. Bukan hanya seberapa besar omzet yang berhasil dicapai atau seberapa banyak orang yang bisa diperintah, melainkan apakah ia masih mampu melihat orang-orang di bawahnya sebagai manusia. Bagi perusahaan besar, kehilangan satu orang mungkin hanya mengubah satu baris dalam data jumlah pekerja. Tetapi bagi sebuah keluarga, kehilangan satu anak tidak bisa diganti dengan siapa pun.
Kedatangan Tsuneaki Kubo tentu tidak dapat menghapus duka keluarga Indra Kurniawan. Namun setidaknya keluarga dapat melihat bahwa perjalanan Indra selama berada di Jepang tidak sepenuhnya berakhir sebagai sebuah nomor dalam laporan kecelakaan kerja. Ada pimpinan perusahaan tempat ia bekerja yang menempuh perjalanan jauh untuk datang dan memberikan penghormatan terakhir.
Di tengah dunia kerja yang sering terlalu sibuk mengejar target dan angka, tindakan seperti ini mengingatkan kembali sesuatu yang sederhana. Perusahaan dibangun oleh manusia. Dan seorang pemimpin yang baik bukan hanya orang yang mampu membuat banyak manusia bekerja untuknya, tetapi juga orang yang tetap mampu menghormati mereka ketika sudah tidak ada lagi keuntungan yang bisa diberikan.
Semoga almarhum Indra Kurniawan mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah SWT, diampuni segala kesalahannya, diterima seluruh amal ibadahnya, serta keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan dan ketabahan menghadapi kehilangan yang begitu berat.
Dari perjalanan seorang CEO Jepang menuju sebuah rumah duka di Purworejo, mungkin kita bisa membawa p**ang satu pelajaran sederhana tentang kepemimpinan. Jabatan boleh semakin tinggi dan jarak boleh ribuan kilometer, tetapi seorang pemimpin tidak seharusnya menjadi terlalu jauh untuk menghormati orang yang pernah menjadi bagian dari timnya.
---
Disclaimer:
Tulisan ini merupakan ulasan sederhana terkait fenomena bisnis atau industri untuk digunakan masyarakat umum sebagai bahan pelajaran atau renungan. Walaupun menggunakan berbagai referensi yang dapat dipercaya, tulisan ini bukan naskah akademik maupun karya jurnalistik.