09/10/2015
Silakan baca cerita ini sampai selesai, ambil hikmahnya dan pelajaran apa yang dapat Anda ambil untuk kehidupan.
“ Goblok kamu ya…” Kata Suamiku sambil melemparkan buku rapor sekolah Doni. Kulihat suamiku
berdiri dari tempat duduknya dan kemudian dia menarik kuping Doni dengan keras. Doni meringis.
Tak berapa lama Suamiku pergi kek**ar dan keluar kembali membawa penepuk nyamuk. Dengan garang
suamiku memukul Doni berkali kali dengan penepuk nyamuk itu. Penepuk nyamuk itu diarahkan
kekaki, kemudian ke punggung dan terus , terus. Doni menangis “ Ampun, ayah ..ampun ayah..”
Katanya dengan suara terisak isak. Wajahnya memancarkan rasa takut. Dia tidak meraung. Doni ku
tegar dengan siksaan itu. Tapi matanya memandangku. Dia membutuhkan perlindunganku. Tapi aku
tak sanggup karena aku tahu betul sifat suamiku.
“Lihat adik adikmu. Mereka semua pintar pintar sekolah. Mereka rajin belajar. Ini kamu anak
tertua malah malas dan tolol Mau jadi apa kamu nanti ?. Mau jadi beban adik adik kamu ya…he “
Kata suamiku dengan suara terengah engah kelelahan memukul Doni. Suamiku terduduk dikorsi.
Matanya kosong memandang kearah Doni dan kemudian melirik kearah ku “ Kamu ajarin dia. Aku
tidak mau lagi lihat lapor sekolahnya buruk. Dengar itu. “ Kata suamiku kepadaku sambil
berdiri dan masuk kek**ar tidur.
Kupeluk Doni. Matanya memudar. Aku tahu dengan nilai lapor buruk dan tidak naik kelas saja dia
sudah malu apalagi di maki maki dan dimarahi didepan adik adiknya. Dia malu sebagai anak
tertua. Kembali matanya memandangku. Kulihat dia butuh dukunganku. Kupeluk Doni dengan erat “
Anak bunda, tidak tolol. Anak bunda pintar kok. Besok yang rajin ya belajarnya”
“ Doni udah belajar sungguh sungguh, bunda, Bunda kan lihat sendiri. Tapi Doni memang engga
pintar seperti Ruli dan Rini. Kenapa ya Bunda” Wajah lugunya membuatku terenyuh.. Aku menangis
“ Doni, pintar kok. Doni kan anak ayah. Ayah Doni pintar tentu Doni juga pintar. “
“Doni bukan anak ayah.” Katanya dengan mata tertunduk “ Doni telah mengecewakan Ayah, ya bunda
“
Malamnya, adiknya Ruli yang sek**ar dengannya membangunkan kami karena ketakutan melihat Doni
menggigau terus. Aku dan suamiku berhamburan kek**ar Doni. Kurasakan badannya panas.Kupeluk
Doni dengan sekuat jiwaku untuk menenangkannya. Matanya melotot kearah kosong. Kurasakan
badannya panas. Segera kukompres kepalanya dan suamiku segera menghubungi dokter keluarga.
Doni tak lepas dari pelukanku “ Anak bunda, buah hati bunda, kenapa sayang. Ini bunda,..”
Kataku sambil terus membelai kepalanya. Tak berapa lama matanya mulai redup dan terkulai. Dia
mulai sadar. Doni membalas pelukanku. ‘Bunda, temani Doni tidur ya." Katanya sayup sayup.
Suamiku hanya menghelap nafas. Aku tahu suamiku merasa bersalah karena kejadian siang tadi.
Doni adalah putra tertua kami. Dia lahir memang ketika keadaan keluarga kami sedang sulit.
Suamiku ketika itu masih kuliah dan bekerja serabutan untuk membiayai kuliah dan rumah tangga.
Ketika itulah aku hamil Doni. Mungkin karena kurang gizi selama kehamilan tidak membuat
janinku tumbuh dengan sempurna. Kemudian, ketika Doni lahir kehidupan kami masih sangat
sederhana. Masa balita Doni pun tidak sebaik anak anak lain. Diapun kurang gizi. Tapi ketika
usianya dua tahun, kehidupan kami mulai membaik seiring usainya kuliah suamiku dan mendapatkan
karir yang bagus di BUMN. Setelah itu aku kembali hamil dan Ruli lahir., juga laki laki dan
dua tahu setelah itu, Rini lahir, adik perempuannya. Kedua putra putriku yang lahir setelah
Doni mendapatkan lingkungan yang baik dan gizi yang baik p**a. Makanya mereka disekolah pintar
pintar. Makanya aku tahu betul bahwa kemajuan generasi ditentukan oleh ketersediaan gizi yang
cukup dan lingkungan yang baik.
Tapi keadaan ini tidak pernah mau diterima oleh Suamiku. Dia punya standard yang tinggi
terhadap anak anaknya. Dia ingin semua anaknya seperti dia. Pintar dan cerdas. “ Masalah Doni
bukannya dia tolol, Tapi dia malas. Itu saja. “ Kata suamiku berkali kali. Seakan dia ingin
menepis tesis tentang ketersediaan gizi sebagai pendukung anak jadi cerdas. “ Aku ini dari
keluarga miskin. Manap**a aku ada gizi cukup. Mana p**a orang tuaku ngerti soal gizi. Tapi
nyatanya aku berhasil. “ Aku tak bisa berkata banyak untuk mempertahankan tesisku itu.
Seminggu setelah itu, suamiku memutuskan untuk mengirim Doni kepesantren. AKu tersentak.
“ Apa alasan Mas mengirim Doni ke Pondok Pesantren “
“ Biar dia bisa dididik dengan benar”
“ Apakah dirumah dia tidak mendapatkan itu”
“ Ini sudah keputusanku, Titik.
“ tapi kenapa , Mas” AKu berusaha ingin tahu alasan dibalik itu.
Suamiku hanya diam. Aku tahu alasannya. Dia tidak ingin ada pengaruh buruk kepada kedua putra
putri kami. Dia malu dengan tidak naik kelasnya Doni. Suamiku ingin memisahkan Doni dari adik
adiknya agar jelas mana yang bisa diandalkannya dan mana yang harus dibuangnya. Mungkinkah itu
alasannya. Bagaimanapun, bagiku Doni akan tetap putraku dan aku akan selalu ada untuknya. Aku
tak berdaya. Suamiku terlalu pintar bila diajak berdebat.
Ketika Doni mengetahui dia akan dikirim ke Pondok Pesantren, dia memandangku. Dia nampak
bingung. Dia terlalu dekat denganku dan tak ingin berpisah dariku.
Dia peluk aku “ Doni engga mau jauh jauh dari bunda” Katanya.
Tapi seketika itu juga suamiku membentaknya “ Kamu ini laki laki. Tidak boleh cengeng. Tidak
boleh hidup dibawah ketiak ibumu. Ngerti. Kamu harus ikut kata Ayah. Besok Ayah akan urus
kepindahan kamu ke Pondok Pesantren. “
Setelah Doni berada di Pondok Pesantren setiap hari aku merindukan buah hatiku. Tapi suamiku
nampak tidak peduli. “ Kamu tidak boleh mengunjunginya di pondok. Dia harus diajarkan mandiri.
Tunggu saja kalau liburan dia akan p**ang” Kata suamiku tegas seakan membaca kerinduanku untuk
mengunjungi Doni.
Tak terasa Doni kini sudah kelas 3 Madrasa Aliyah atau setingkat SMU. Ruli kelas 1 SMU dan
Rini kelas 2 SLP. Suamiku tidak pernah bertanya soal Raport sekolahnya. Tapi aku tahu raport
sekolahnya tak begitu bagus tapi juga tidak begitu buruk. Bila liburan Doni p**ang kerumah,
Doni lebih banyak diam. Dia makan tak pernah berlebihan dan tak pernah bersuara selagi makan
sementara adiknya bercerita banyak soal disekolah dan suamiku menanggapi dengan tangkas untuk
mencerahkan. Walau dia satu k**ar dengan adiknya namun k**ar itu selalu dibersihkannya setelah
bangun tidur. Tengah malam dia bangun dan sholat tahajud dan berzikir sampai sholat subuh.
Ku purhatikan tahun demi tahu perubahan Doni setelah mondok. Dia berubah dan berbeda dengan
adik adiknya. Dia sangat mandiri dan hemat berbicara. Setiap hendak pergi keluar rumah, dia
selalu mencium tanganku dan setelah itu memelukku. Beda sekali dengan adik adiknya yang serba
cuek dengan gaya hidup modern didikan suamiku.
Setamat Madrasa Aliyah, Doni kembali tinggal dirumah. Suamiku tidak menyuruhnya melanjutkan ke
Universitas. “ Nilai rapor dan kemampuannya tak bisa masuk universitas. Sudahlah. Aku tidak
bisa mikir soal masa depan dia. Kalau dipaksa juga masuk universitas akan menambah beban
mentalnya. “ Demikian alasan suamiku. Aku dapat memaklumi itu. Namun suamiku tak pernah
berpikir apa yang harus diperbuat Doni setelah lulus dari pondok. Donipun tidak pernah
bertanya. Dia hanya menanti dengan sabar.
Selama setahun setelah Doni tamat dari mondok, waktunya lebih banyak di habiskan di Masjid.
Dia terpilih sebagai ketua Remaja Islam Masjid. Doni tidak memilih Masjid yang berada di
komplek kami tapi dia memilih masjid diperkampungan yang berada dibelakang komplek. Mungkin
karena inilah suamiku semakin kesal dengan Doni karena dia bergaul dengan orang kebanyakan.
Suamiku sangat menjaga reputasinya dan tak ingin sedikitpun tercemar. Mungkin karena dia malu
dengan cemoohan dari tetangga maka dia kadang marah tanpa alasan yang jelas kepada Doni. Tapi
Doni tetap diam. Tak sedikitpun dia membela diri.
Suatu hari yang tak pernah kulupakan adalah ketika polisi datang kerumahku. Polisi mencurigai
Doni dan teman temannya mencuri di rumah yang ada di komplek kami. Aku tersentak. Benarkah
itu. Doni sujud dikaki ku sambil berkata “ Doni tidak mencuri , Bunda. TIdak, Bunda percayakan
dengan Doni. Kami memang sering menghabiskan malam di masjid tapi tidak pernah keluar untuk
mencuri.” Aku meraung ketika Doni dibawa kekantor polisi. Suamiku dengan segala daya dan upaya
membela Doni. Alhamdulilah Doni dan teman temannya terbebaskan dari tuntutan itu. Karena
memang tidak ada bukti sama sekali. Mungkin ini akibat kekesalan penghuni komplek oleh ulah
Doni dan kawan kawan yang selalu berzikir dimalam hari dan menggangu ketenangan tidur.
Tapi akibat kejadian itu , suamiku mengusir Doni dari rumah. Doni tidak protes. Dia hanya diam
dan menerima keputusan itu. Sebelum pergi dia rangkul aku” Bunda , Maafkanku. Doni belum bisa
berbuat apapun untuk membahagiakan bunda dan Ayah. Maafkan Doni “ Pesanya. Diapun memandang
adiknya satu satu. Dia peluk mereka satu persatu “ Jaga bunda ya. Mulailah sholat dan jangan
tinggalkan sholat. Kalian sudah besar .” demikian pesan Doni. Suamiku nampak tegar dengan
sikapnya untuk mengusir DOni dari rumah.
“ Mas, Dimana Doni akan tinggal. “ Kataku dengan batas kekuatan terakhirku membela Doni.
“ Itu bukan urusanku. Dia sudah dewasa. Dia harus belajar bertanggung jawab dengan hidupnya
sendiri.
***
Tak terasa sudah enam tahun Doni pergi dari Rumah. Setiap bulan dia selalu mengirim surat
kepadaku. Dari suratnya kutahu Doni berpindah pindah kota. Pernah di Bandung, Jakarta,
Surabaya dan tiga tahun lalu dia berangkat ke Luar negeri. Bila membayangkan masa kanak
kanaknya kadang aku menangis. Aku merindukan putra sulungku. Setiap hari kami menikmati
fasilitas hidup yang berkecukupan. Ruli kuliah dengan kendaraan bagus dan ATM yang berisi
penuh. Rinipun sama. Karir suamiku semakin tinggi. Lingkungan social kami semakin berkelas.
Tapi, satu putra kami pergi dari kami. Entah bagaimana kehidupannya. Apakah dia lapar. Apakah
dia kebasahan ketika hujan karena tidak ada tempat bernaung. Namun dari surat Doni , aku tahu
dia baik baik saja. Dia selalu menitipkan pesan kepada kami, “ Jangan tinggalkan sholat.
Dekatlah kepada Allah maka Allah akan menjaga kita siang dan malam. “
***
Prahara datang kepada keluarga kami. Suamiku tersangkut kasus Korupsi. Selama proses
pemeriksaan itu suamiku tidak dibenarkan masuk kantor. Dia dinonaktifkan. Selama proses
itup**a suamiku nampak murung. Kesehatannya mulai terganggu. Suamiku mengidap hipertensii. Dan
puncaknya , adalah ketika Polisi menjemput suamiku di rumah. Suamiku terbukti melakukan tindak
pidana korupsi. Rumah dan semua harta yang selama ini dikumpulkan disita oleh negara. Media
maassa memberitakan itu setiap hari. Reputasi yang selalu dijaga oleh suamiku selama ini
ternyata dengan mudah hancur berkeping keping. Harta yang dikumpul, sirna seketika. Kami
sekeluarga menjadi pesakitan. Ruli malas untuk terus keliah karena malu dengan teman temannya.
Rini juga sama yang tak ingin terus kuliah.
Kini suamiku dipenjara dan anak anak jadi bebanku dirumah kontrakan. Ya walau mereka sudah
dewasa namun mereka menjadi bebanku. Mereka tak mampu untuk menolongku. Baru kutahu bahwa
selama ini kemanjaan yang diberikan oleh suamiku telah membuat mereka lemah untuk survival
dengan segala kekurangan. Maka jadilah mereka bebanku ditengah prahara kehidupan kami. Pada
saat inilah aku sangat merindukan putra sulungku. Ditengah aku sangat merindukan itulah aku
melihat sosok pria gagah berdiri didepan pintu rumah.
Doniku ada didepanku dengan senyuman khasnya. Dia menghambur kedalam pelukanku. “ Maafkan aku
bunda, Aku baru sempat datang sekarang sejak aku mendapat surat dari bunda tentang keadaan
ayah. “ katanya. Dari wajahnya kutahu dia sangat merindukanku. Rini dan Ruli juga segera
memeluk Doni. Mereka juga merindukan kakaknya. Hari itu, kami berempat saling berpelukan untuk
meyakinkan kami akan selalu bersama sama.
Kehadiran Doni dirumah telah membuat suasana menjadi lain. Dengan bekal tabungannya selama
bekerja diluar negeri, Doni membuka usaha percetakan dan reklame. Aku tahu betul sedari kecil
dia s**a sekali menggambar namun hobi ini selalu di cemoohkan oleh ayahnya. Doni mengambil
alih peran ayahnya untuk melindungi kami. Tak lebih setahu setelah itu, Ruli kembali kuliah
dan tak pernah meninggalkan sholat dan juga Rini. Setiap maghrib dan subuh Doni menjadi imam
kami sholat berjamaah dirumah. Seusai sholat berjaman Doni tak lupa duduk bersilah dihadapan
kami dan berbicara dengan bahasa yang sangat halus , beda sekali dengan gaya ayahnya
“ Manusia tidak dituntut untuk terhormat dihadapan manusia tapi dihadapan Allah. Harta dunia,
pangkat dan jabatan tidak bisa dijadikan tolok ukur kehormatan. Kita harus berjalan dengan
cara yang benar dan itulah kunci meraih kebahagiaan dunia maupun akhirat. Itulah yang harus
kita perjuangkan dalam hidup agar mendapatkan kemuliaan disisi Allah. . Dekatlah kepada Allah
maka Allah akan menjaga kita. Apakah ada yang lebih hebat menjaga kita didunia ini
dibandingkan dengan Allah. “
“ Apa yang menimpa keluarga kita sekarang bukanlan azab dari Allah. Ini karena Allah cinta
kepada Ayah. Allah cinta kepada kita semua karena kita semua punya peran hingga membuat ayah
terpuruk dalam perbuatan dosa sebagai koruptor. Allah sedang berdialog dengan kita tentang
sabar dan ikhlas, tentang hakikat kehidupan, tentang hakikat kehormatan. Kita harus mengambil
hikmah dari ini semua untuk kembali kepada Allah dalam sesal dan taubat. Agar bila besok ajal
menjemput kita, tak ada lagi yang harus disesalkan, Karna kita sudah sangat siap untuk p**ang
keharibaan Allah dengan bersih. “
Seusai Doni berbicara , aku selalu menangis. Doni yang tidak pintar sekolah, tapi Allah
mengajarinya untuk mengetahui rahasia terdalam tentang kehidupan dan dia mendapatkan itu untuk
menjadi pelindung kami dan menuntun kami dalam taubah. Ini jugalah yang mempengaruhi sikap
suamiku dipenjara. Kesehatannya membaik. Darah tingginya tak lagi sering naik. Dia ikhlas dan
sabar , dan tentu karena dia semakin dekat kepada Allah. Tak pernah tinggal sholat sekalipun.
Zikir dan linangan airmata sesal akan dosanya telah membuat jiwanya tentram. Mahasuci Allah
Dari FB ariginanjaragustian.
By : https://www.tokopedia.com/dakenziestore