28/10/2019
Stop komplain, dan jangan komplaint! "Kondisi apa pun yang Anda alami saat ini adalah hasil dari pilihan dan keputusan Anda di masa lalu".
Manusia yang kegemarannya melakukan komplain adalah tipe manusia yang tidak mau bersyukur dan mengambil pelajaran positif dari setiap kejadian yang dia alami. Perlu Anda sadari balwa sesungguhnya kebiasaan komplain akan membuka pintu-pintu masuk bagi setan ke relung hati kita.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَلا تَعْجِزَنَّ , وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلا تَقُلْ : لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَذَا لَكَانَ كَذَا وَ كَذَا , وَلَكِنْ قُلْ : قَدَرُ اللهِ وَ مَا شَاءَ فَعَلَ , فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ
“Bersungguh-sungguhlah dalam hal-hal yang bermanfaat bagimu dan mohonlah pertolongan kepada Allah (dalam segala urusan), serta janganlah sekali-kali kamu bersikap lemah. Jika kamu tertimpa sesuatu (kegagalan), maka janganlah kamu mengatakan, ‘seandainya aku berbuat demikian, pastilah tidak akan begini atau begitu’. Tetapi katakanlah, ‘ini telah ditakdirkan oleh Allah dan Allah berbuat sesuai dengan apa yang dikehendaki’. Karena sesungguhnya perkataan seandainya akan membuka (pintu) perbuatan setan.” (HR. Muslim).
Ada suatu kisah menarik yang menggambarkan dengan jelas bahwa orang yang sering komplain adalah orang yang tidak mau bersyukur dan tidak mau mengambil pelajaran positif dari setiap kejadian. Kisah ini merupakan legenda dari negeri Cina.
Alkisah, hiduplah seorang petani tua di sebuah desa bersama dengan istri dan seorang anak laki-lakinya yang tampan lagi gagah. Kebetulan petani ini memiliki dan memelihara seekor kuda jantan berwarna putih yang sangat gagah perkasa. Saking hebat dan bagusnya kuda putih ini maka semua orang yang melihatnya merasa kagum dan memujinya. Sang petani begitu bangga dengan kuda kèsayangannya tersebut. Setiap hari kuda tersebut dimandikan, dirawat, dan diberi makan yang istimewa layaknya anaknya sendiri.
Suatu pagi, ketika akan membuka kandang kudanya, alangkah terkejutnya ia melihat kudanya telah hilang Kemudian ia berteriak kepada orang-orang desa dan menceritakan bahwa kudanya telah hilang, sungguh sial nasib saya, kuda kesayangan hilang...", keluh petani ini. Maka, berbondong-bondonglah orang-orang desa membantunya mencari kuda tersebut ke berbagai pelosok bahkan hingga ke hutan. Tetapi, hingga sore hari tidak ditemukan juga. Kembalilah orang-orang desa ke rumah mereka masing-masing.
Tiba-tiba, di penghujung sore, terdengarlah ringkikan beberapa ekor kuda di kandang si petani tersebut. Rupa-rupanya, kudanya yang tadi hilang ternyata sedang pergi ke tengah hutan dan bergabung dengan teman-temannya, kemudian ia pulang membawa 4 ekor temannya masuk ke kandang. Sang petani tersenyum sambil bergumam, Kuda pintar, kini aku memiliki 5 ekor kuda..., maka aku menjadi kaya hari ini.
Esok harinya, sang petani bercerita bahwa ia kini memiliki 5 ekor kuda yang gagah-gagah, 4 di antaranya masih merupakan kuda liar yang dibawa oleh kuda putihnya. Siang hari, anak sang petani menaiki salah satu kuda liar dan kuda tersebut berontak hingga anak sang petani terjatuh hingga jempol kaki kanannya putus. Kembali sang petani mengeluh "Sungeuh sial nasib saya, hari ini anak saya terluka dan harus kehilangan jempol kakinya karena kuda berengsek itu..."
Beberapa hari setelah kejadian itu. pecahlah perang di negara yang didiami oleh sang petani tersebut. Berhubung negara membutuhkan tenaga tambahan prajurit, maka setiap rumah wajib mengirimkan anak lelakinya untuk ikut program Wajib Militer. Datanglah satu kompi tentara ke desa tersebut dan memeriksa setiap rumah untuk mengambil anak laki-laki, termasuk anak laki-laki si petani ini. Saat itu, si petani kembali mengeluh, "Sungguh sial nasib saya, anak laki satu-satunya harus dibawa oleh tentara untuk ikut perang... ooh Tuhan, mengapa sial sekali hidup saya ? Bagaimana nanti jika anak saya mati di medan perang?"
Ketika bertempur di medang perang, pas**an terdesak oleh serangan musuh, hingga akhirnya mereka melarikan diri ke tengah-tengah hutan. Tiada yang menyangka bahwa hutan itu didiami oleh suku primitif yang masih menganut model kanibalisme. Maka, dari sekian tentara yang selamat, termasuk salah satunya anak petani tadi, tertangkaplah mereka aleh suku primitif tersebut. Mereka semua dikerangkeng untuk dipersiapkan dalam suatu pesta BBQ (baca: barbeque = sate dan orang guling"). Sebelum dijadikan bahan pangangan, mereka diberikan waktu satu bulan untuk dibuat gemuk. Dalam masa itu, mereka diberikan kesempatan untuk menulis surat kepada keluarga mereka. Maka sang anak petani tadi, menulis surat kepada ayahnya dan menceritakan kondisinya kini, "Ayah, aku tidak tewas di medan perang... aku sehat- sehat saja... tetapi sekarang aku sedang dikerangkeng oleh suku primitif di tengah hutan untuk dipanggang dan dijadikan santapan makan malam mereka nanti..."
Membaca surat tersebut, maka sang petani menangis dan kembali mengeluh, "Sungguh sial nasibku ini.. anak laki-laki satu-satunya diambil tentara, bukannya mati membela negara, malahan mati disantap suku primitif... ooohh Tuhan, mengapa sungguh malang nasibku ini?"
Hari yang ditakutkan tiba, seluruh tawanan dikeluarkan satu per satu dari kerangkeng untuk mulai di panggang di atas bara api yang telah disiapkan. Sebelum dipanggang, ketua suku berkenan memeriksa satu persatu kondisi fisik mereka. Salah satu hal yang tabu bagi suku ini adalah memakan santapan yang kondisi fisiknya tidak lengkap, maka selamatlah anak sang petani tadi karena jempol kakinya tidak ada.
Allah subhanahu wa ta'aala berfirman:
إِنَّ الْإِنسَانَ خُلِقَ هَلُوعًا (19) إِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوعًا (20) وَإِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوعًا (21)
"Sesungguhnya manusia diciptakan dengan memiliki sifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan, maka ia berkeluh kesah (komplain), dan apabila ia mendapat kebaikan maka ia berlaku amat kikir," (QS Al Maaarij [70]: 19-21).
Bersambung...
Sumber: Buku Super Muslim, Imam Munadi, MPI