Muslimin

Muslimin Mushola Darul Arqom dan Ta'lim Al-Quran. Membentuk generasi Robbani dengan semangat "Darul Arqom" Mushola Darul Arqom dan Ta'lim Al-Qur'an Desa Pruwatan Bumiayu

09/04/2020

Semoga kalian baik-baik saja di sana...
__
fb/ig/tg
Install app kami di bit.ly/muslimshowapp

25/03/2020

TAUSIYAH MAJELIS ULAMA INDONESIA PROVINSI JAWA TENGAH
TENTANG PENYELENGGARAAN IBADAH DI MASJID
DALAM SITUASI DARURAT COVID-19

1. Kepada Pengelola masjid dan segenap umat Islam Jawa Tengah untuk tidak menyelenggarakan Shalat Jum'at pada tanggal 27 Maret 2020 dan para Jama'ah menggantikannya dengan melaksanakan Shalat Dhuhur di kediaman masing-masing.
2. Pengelola masjid tidak menyelenggarakan jamaah shalat rawatib/ jamaah shalat lima waktu
3. Tidak menyelenggarakan kegiatan keagamaan yang melibatkan orang banyak baik di masjid atau di tempat lain.
4. Untuk pelaksanaan shalat jumat selanjutnya akan dikeluarkan tausiah berikutnya sesuai dengan perkembangan situasi.

Stop komplain, dan jangan komplaint! "Kondisi apa pun yang Anda alami saat ini adalah hasil dari pilihan dan keputusan A...
28/10/2019

Stop komplain, dan jangan komplaint! "Kondisi apa pun yang Anda alami saat ini adalah hasil dari pilihan dan keputusan Anda di masa lalu".

Manusia yang kegemarannya melakukan komplain adalah tipe manusia yang tidak mau bersyukur dan mengambil pelajaran positif dari setiap kejadian yang dia alami. Perlu Anda sadari balwa sesungguhnya kebiasaan komplain akan membuka pintu-pintu masuk bagi setan ke relung hati kita.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَلا تَعْجِزَنَّ , وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلا تَقُلْ : لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَذَا لَكَانَ كَذَا وَ كَذَا , وَلَكِنْ قُلْ : قَدَرُ اللهِ وَ مَا شَاءَ فَعَلَ , فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ

“Bersungguh-sungguhlah dalam hal-hal yang bermanfaat bagimu dan mohonlah pertolongan kepada Allah (dalam segala urusan), serta janganlah sekali-kali kamu bersikap lemah. Jika kamu tertimpa sesuatu (kegagalan), maka janganlah kamu mengatakan, ‘seandainya aku berbuat demikian, pastilah tidak akan begini atau begitu’. Tetapi katakanlah, ‘ini telah ditakdirkan oleh Allah dan Allah berbuat sesuai dengan apa yang dikehendaki’. Karena sesungguhnya perkataan seandainya akan membuka (pintu) perbuatan setan.” (HR. Muslim).

Ada suatu kisah menarik yang menggambarkan dengan jelas bahwa orang yang sering komplain adalah orang yang tidak mau bersyukur dan tidak mau mengambil pelajaran positif dari setiap kejadian. Kisah ini merupakan legenda dari negeri Cina.

Alkisah, hiduplah seorang petani tua di sebuah desa bersama dengan istri dan seorang anak laki-lakinya yang tampan lagi gagah. Kebetulan petani ini memiliki dan memelihara seekor kuda jantan berwarna putih yang sangat gagah perkasa. Saking hebat dan bagusnya kuda putih ini maka semua orang yang melihatnya merasa kagum dan memujinya. Sang petani begitu bangga dengan kuda kèsayangannya tersebut. Setiap hari kuda tersebut dimandikan, dirawat, dan diberi makan yang istimewa layaknya anaknya sendiri.

Suatu pagi, ketika akan membuka kandang kudanya, alangkah terkejutnya ia melihat kudanya telah hilang Kemudian ia berteriak kepada orang-orang desa dan menceritakan bahwa kudanya telah hilang, sungguh sial nasib saya, kuda kesayangan hilang...", keluh petani ini. Maka, berbondong-bondonglah orang-orang desa membantunya mencari kuda tersebut ke berbagai pelosok bahkan hingga ke hutan. Tetapi, hingga sore hari tidak ditemukan juga. Kembalilah orang-orang desa ke rumah mereka masing-masing.

Tiba-tiba, di penghujung sore, terdengarlah ringkikan beberapa ekor kuda di kandang si petani tersebut. Rupa-rupanya, kudanya yang tadi hilang ternyata sedang pergi ke tengah hutan dan bergabung dengan teman-temannya, kemudian ia pulang membawa 4 ekor temannya masuk ke kandang. Sang petani tersenyum sambil bergumam, Kuda pintar, kini aku memiliki 5 ekor kuda..., maka aku menjadi kaya hari ini.

Esok harinya, sang petani bercerita bahwa ia kini memiliki 5 ekor kuda yang gagah-gagah, 4 di antaranya masih merupakan kuda liar yang dibawa oleh kuda putihnya. Siang hari, anak sang petani menaiki salah satu kuda liar dan kuda tersebut berontak hingga anak sang petani terjatuh hingga jempol kaki kanannya putus. Kembali sang petani mengeluh "Sungeuh sial nasib saya, hari ini anak saya terluka dan harus kehilangan jempol kakinya karena kuda berengsek itu..."

Beberapa hari setelah kejadian itu. pecahlah perang di negara yang didiami oleh sang petani tersebut. Berhubung negara membutuhkan tenaga tambahan prajurit, maka setiap rumah wajib mengirimkan anak lelakinya untuk ikut program Wajib Militer. Datanglah satu kompi tentara ke desa tersebut dan memeriksa setiap rumah untuk mengambil anak laki-laki, termasuk anak laki-laki si petani ini. Saat itu, si petani kembali mengeluh, "Sungguh sial nasib saya, anak laki satu-satunya harus dibawa oleh tentara untuk ikut perang... ooh Tuhan, mengapa sial sekali hidup saya ? Bagaimana nanti jika anak saya mati di medan perang?"

Ketika bertempur di medang perang, pas**an terdesak oleh serangan musuh, hingga akhirnya mereka melarikan diri ke tengah-tengah hutan. Tiada yang menyangka bahwa hutan itu didiami oleh suku primitif yang masih menganut model kanibalisme. Maka, dari sekian tentara yang selamat, termasuk salah satunya anak petani tadi, tertangkaplah mereka aleh suku primitif tersebut. Mereka semua dikerangkeng untuk dipersiapkan dalam suatu pesta BBQ (baca: barbeque = sate dan orang guling"). Sebelum dijadikan bahan pangangan, mereka diberikan waktu satu bulan untuk dibuat gemuk. Dalam masa itu, mereka diberikan kesempatan untuk menulis surat kepada keluarga mereka. Maka sang anak petani tadi, menulis surat kepada ayahnya dan menceritakan kondisinya kini, "Ayah, aku tidak tewas di medan perang... aku sehat- sehat saja... tetapi sekarang aku sedang dikerangkeng oleh suku primitif di tengah hutan untuk dipanggang dan dijadikan santapan makan malam mereka nanti..."

Membaca surat tersebut, maka sang petani menangis dan kembali mengeluh, "Sungguh sial nasibku ini.. anak laki-laki satu-satunya diambil tentara, bukannya mati membela negara, malahan mati disantap suku primitif... ooohh Tuhan, mengapa sungguh malang nasibku ini?"

Hari yang ditakutkan tiba, seluruh tawanan dikeluarkan satu per satu dari kerangkeng untuk mulai di panggang di atas bara api yang telah disiapkan. Sebelum dipanggang, ketua suku berkenan memeriksa satu persatu kondisi fisik mereka. Salah satu hal yang tabu bagi suku ini adalah memakan santapan yang kondisi fisiknya tidak lengkap, maka selamatlah anak sang petani tadi karena jempol kakinya tidak ada.

Allah subhanahu wa ta'aala berfirman:

إِنَّ الْإِنسَانَ خُلِقَ هَلُوعًا (19) إِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوعًا (20) وَإِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوعًا (21)

"Sesungguhnya manusia diciptakan dengan memiliki sifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan, maka ia berkeluh kesah (komplain), dan apabila ia mendapat kebaikan maka ia berlaku amat kikir," (QS Al Maaarij [70]: 19-21).

Bersambung...

Sumber: Buku Super Muslim, Imam Munadi, MPI

Kisah kematian orang yang gemar membeli minuman keras dan ke tempat pelacuranDalam buku hariannya, Sultan Turki Murad og...
24/10/2019

Kisah kematian orang yang gemar membeli minuman keras dan ke tempat pelacuran

Dalam buku hariannya, Sultan Turki Murad oglu Ahmed atau Murad IV mengisahkan, bahwa suatu malam dia merasakan kegalauan yang sangat, dia ingin tahu apa penyebabnya. Maka dia memanggil kepala pengawalnya dan memberitahu apa yang dirasakannya.

Sultan Turki Utsmani periode 10 September 1623 hingga 9 Februari 1640 inipun berkata kepada kepala pengawal, "Mari kita keluar sejenak."

Di antara kebiasaan sang Sultan adalah melakukan blus**an di malam hari dengan cara menyamar.

Sultan dan pengawalnya lantas pergi berkeliling kota hingga tibalah mereka
di sebuah lorong yang sempit.

Tiba-tiba, mereka menemukan seorang
laki-laki tergeletak di atas tanah. Sang Sultan menggerak-gerakkan lelaki itu,
ternyata dia telah meninggal.

Namun orang-orang yang lalu lalang di sekitarnya tak sedikitpun mempedulikannya.

Sultan pun memanggil warga yang tak menyadari kalau orang tersebut adalah Sultan.

Mereka bertanya, "Apa yang kau inginkan?".

"Mengapa orang ini meninggal
tapi tidak ada satu pun di antara kalian yang mau mengangkat jenazahnya?," jawab Sultan menjawab.

"Siapa dia, di mana keluarganya?," tanya Sultan.

Warga berkata, "Orang ini Zindiq,
s**a menenggak minuman keras dan berzinah.!".

Sultan menimpali, "Tapi..bukankah ia termasuk umat Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam?, Ayo angkat jenazahnya, kita bawa ke rumahnya".

Mereka pun membawa jenazah laki-laki itu ke rumahnya.

Melihat suaminya meninggal, sang istripun pun menangis. Orang-orang yang membawa jenazahnya langsung pergi, tinggallah sang Sultan dan kepala pengawalnya.

Dalam tangisnya sang istri berucap pada jenazah suaminya, "Semoga Allah merahmatimu wahai wali Allah. Aku bersaksi bahwa engkau termasuk orang yang sholeh."

Mendengar ucapan itu Sultan Murad kaget. "Bagaimana mungkin dia termasuk wali Allah sementara orang-orang membicarakan tentang dia begini dan begitu, sampai-sampai mereka tidak peduli dengan kematiannya.?"

Sang istri menjawab, "Sudah kuduga pasti akan begini. Setiap malam suamiku keluar rumah pergi ke toko-toko minuman keras, dia membeli minuman keras dari para penjual sejauh yang ia mampu. Kemudian minuman-minuman itu dibawa ke rumah lalu ditumpahkannya ke dalam toilet, sambil berkata: "Aku telah meringankan dosa kaum muslimin."

"Dia juga selalu pergi menemui para pelacur, memberi mereka uang dan berkata: "Malam ini kalian sudah dalam bayaranku, jadi tutup pintu rumahmu sampai pagi."

"Kemudian ia pulang ke rumah, dan berkata kepadaku: "Alhamdulillah, malam ini aku telah meringankan dosa para pelacur itu dan pemuda-pemuda Islam."

"Orang-orang pun hanya menyaksikan bahwa ia selalu membeli khamar dan menemui pelacur, lalu mereka menuduhnya dengan berbagai tuduhan dan menjadikannya buah bibir."

"Suatu kali aku pernah berkata kepada suamiku: Kalau kamu mati nanti, tidak akan ada kaum muslimin yang mau memandikan jenazahmu, mensholatimu dan menguburkan jenazahmu."

"Ia hanya tertawa, dan berkata: Jangan takut, bila aku mati, aku akan dishalati oleh Sultannya kaum muslimin, para Ulama dan para Wali."

Mendengar itu semua, Sultan Murad pun menangis, dan berkata, "Benar! demi Allah, akulah Sultan Murad, dan besok pagi kita akan memandikannya, menshalatkannya dan menguburkannya."

Demikianlah, akhirnya prosesi penyelenggaraan jenazah laki-laki itu dihadiri oleh Sultan, para Ulama, para Wali Allah dan seluruh masyarakat.

*Kisah ini diceritakan kembali oleh Syaikh Al Musnid Hamid Akram Al Bukhary dari Mudzakkiraat Sultan Murad IV

https://blog.darularqom.com/2019/10/kisah-kematian-orang-yang-gemar-membeli.html

22/10/2019

Address

Jalan Mardisiswa Rt 8/1 Pruwatan Krajan Bumiayu Brebes
Brebes
52273

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Muslimin posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Muslimin:

Share