08/07/2025
Dimaa Salahnya ?
Seorang nenek yang sudah mendekati renta bertutur di halaman sebuah Panti Jompo...
Katanya "Aku sudah membesarkan anak anakku, aku korbankan semua hartaku untuk pendidikan mereka hingga mereka semua mendapatkan pendidikan yang tinggi dan semua menjadi sarjana. Sekarang semua anak anakku telah sukses.
Disatu sisi aku bahagia bisa membesarkan dan membiayai pendidikan mereka hingga sukses, namun disisi lain, aku merasa sedih karena dimasa tuaku haku harus dititipkan di panti jompo. Kesibukan mereka membuat mereka tidak memiliki waktu untuk mengurusku". Tukasnya sembari menyeka tetes air mata di pipinya.
===========
Salahkah orang tua membiayai pendidikan anaknya ?
TIDAK, Tidak ada yang salah.
Memang hak anak untuk mendapatkan pendidikan yang baik.
Namun...
Banyak yang lupa, pendidikan tinggi saja tidak cukup sebagai bekal hidup seorang anak. Dengan bekal pendidikan yang disiapkan orang tuanya, mungkin dia bisa mandiri, sukses dan mencapai puncak karir. Tapi belum tentu dia memiliki kepekaan terhadap lingkungan, bahkan lingkungan terdekat.
Lalu apa sebenarnya yang salah ?
Kekeliruan kebanyakan kita dalam mendidik anak adalah pada orientasi nya. Jamak dari kita yang masih berorientasi kesuksesan dunia semata, berbanding lurus dengan mengesampingkan orientasi akhirat. Hasilnya, anak menjadi tidak tau arah tujuan yang sebenarnya hendak dicapai. Fokusnya adalah capaian kebendaan, materialistis dan prestasi karir, pangkat serta jabatan. Tidak terlintas sedikitpun untuk melirik urusan akhirat.
Kita lebih sibuk menarget prestasi keduniaan anak daripada sibuk memberi contoh teladan dalam kebaikan dan ketaatan.
Anggapannya, kesuksesan nya itu sudah cukup membuat orang tuanya bangga. Padahal dibalik kesuksesan nya ada derai airmata yang merindukan kasihsayang dari buah hatinya yang pernah ia besarkan dengan penuh cinta.
Kita lupa, bahwasanya yang diperintahkan kepada kita adalah menjaga diri dan keluarga (Anak² dna istri) dari api neraka. Bukan dari kemiskinan dan kemelaratan.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا
Kita lebih takut anak kita kurang makan daripada anak kita kurang adab. Kita lebih takut anak kita tidak sekolah daripada anak kita tidak shalat. Kita lebih khawatir anak kita tidak dapat kerjaan yang layak daripada kelak tidak dapat kesempatan masuk surga.
Ketakutan kita akan tidak kebagian dunia lebih besar daripada tidak tidak kebagian kebahagiaan di akhirat.
Punya anak sukses dalam karir itu memang membanggakan, namun anak shaleh yang berbakti kepada orang tualah yang membuat tenang masa masa renta.
Idealnya, kita berharap anak anak kita sukses didunia dan diakhirat, namun jikalau tidak bisa diraih keduanya, setidaknya pilihlah kesuksesan hakiki, yaitu menjadikan mereka peka terhadap tujuan utama yaitu hari² setelah kematian.
Rabbi Hablana minash-shalilin.
Bekasi, 080725