19/09/2025
𝙂𝙪𝙗𝙚𝙧𝙣𝙪𝙧 𝘽𝙖𝙡𝙞 𝙎𝙚𝙥𝙚𝙧𝙩𝙞 𝙊𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙈𝙚𝙣𝙪𝙣𝙩𝙪𝙣 𝙆𝙚𝙡𝙚𝙙𝙖𝙞
Ada kisah tentang orang tua yang sedang mengendarai seekor keledai. Sementara anaknya berjalan kaki sambil memegang tali penuntun keledai.
Melintas di sebuah jalanan desa mereka menjadi pusat perhatian beberapa warga yang sedang nongkrong minum kopi.
"Lihatlah orang tua itu, tidak punya perasaan. Ia menaiki keledai sedangkan anaknya dibiarkan berjalan kaki", teriak seorang lelaki yang pernah menjabat sebagai seorang komisiiner KPU.
Mendengar celaan itu, si orang tua turun dari keledai dan menyuruh anaknya untuk naik menungganginya. Namun, kembali terdengar seorang ibu senator mengkritik, "Anak itu kurang ajar sekali, ia enak-enakan naik keledai sedangkan bapaknya dibiarkan berjalan kaki".
Kali ini, si orang tua dan anaknya memutuskan untuk duduk bersama-sama di atas keledai. Namun, mereka kembali dikritik oleh seorang host podcast , "Kejam sekali mereka, keledai sekecil itu dinaiki oleh dua orang".
Merasa tidak senang mendengar perkataan orang, si orang tua dan anaknya turun dari keledai dan memutuskan untuk berjalan kaki bersama, sementara keledai mereka tuntun. Tapi, kali ini pun mereka tetap mendapat komentar dari seorang sekjen Partai Gurem, "Betapa bodohnya mereka, punya keledai tapi tidak dinaiki".
Memang benar kata orang bijak, sehebat dan sebaik apa pun usaha kita, tidak akan pernah bisa menyenangkan semua orang. Apalagi jika kritik tersebut disampaikan tidak untuk memberi solusi.
Ada beberapa orang mengkritik hanya untuk mendapat pengakuan jika dirinya lebih pintar secara teori. Ada juga beberapa yang sekedar mencari kesalahan, dengan tujuan ingin menjatuhkan wibawa atau membunuh karakter orang yang dikritiknya.
Jika seorang pemimpin tidak memiliki prinsip, tidak memiliki konsistensi dan komitmen dalam pengambilan keputusan, bisa jadi akan gampang terpengaruh dengan omongan orang dan akhirnya mudah berubah arah kebijakan.
Hal yang sama bisa kita lihat saat Gubernur Bali, I Wayan Koster menggalang solidaritas ASN untuk bergotong royong membantu korban banjir secara s**arela.
Media sosial mendadak ramai dengan celotehan "pemerasan", "bansos bisa pakai anggaran daerah kok dana bencana malah tidak cair".
Jika mendengar cemoohan buzzer di media sosial, bisa jadi malah menghambat langkah gercep Pak Gubernur Bali. Mau pakai anggaran daerah tentu jalur birokrasinya berliku. Sementara Pak Gubernur kita kenal orangnya gak s**a berlama-lama. Jalan Denpasar - Buleleng yang berliku aja langsung dibuatkan shortcut, apalagi ini masalah membantu korban banjir.
Celotehan yang bertendensi memperkeruh suasana, sama keruhnya bak arus Tukad Badung disaat banjir bandang, tentu berakibat sangat merugikan.
Yang paling terdampak tentu para korban bencana alam. Mereka tengah dalam keprihatinan dan berharap bisa mendapatkan bantuan sesegera mungkin. Adanya suasana hingar bingar yang tercipta tentu bisa berujung tidak baik nantinya.
Karena itu penting untuk menerapkan kata bijak lainnya,"anjing menggonggong, kafilah berlalu".